Pasta Gigi Tanpa Deterjen SLS, Lebih Sehat untuk Keluarga
Pasta gigi harus berbusa? Ini pandangan lama. Ini 4 alasan pasta gigi tanpa deterjen SLS nyatanya lebih sehat untuk ibu hamil & keluarga!

Bagi keluarga, tentunya Mama ingin memberikan yang terbaik agar mereka selalu aman dan sehat. Termasuk urusan kesehatan gigi. Pasta gigi memang bagian kecil dari perawatan tubuh, tapi sangat memengaruhi kesehatan. Masalahnya, banyak yang belum tahu bahwa pasta gigi yang mengandung deterjen SLS ternyata kurang sehat untuk gigi dan mulut lho!
Efek Samping Pasta Gigi Berdeterjen
Sodium lauryl sulfate (SLS) adalah salah satu deterjen sintetis yang paling banyak digunakan dalam pasta gigi. Konsentrasi SLS dalam pasta gigi biasanya berkisar antara 0,5-2,0%. Bahan ini tergolong murah dan sangat efektif untuk menghasilkan busa.
Namun, beragam penelitian telah mengungkapkan penggunaan SLS pada pasta gigi memiliki beragam efek samping, di antaranya:
-
Pada sebagian orang, SLS dapat menyebabkan iritasi atau pengelupasan lapisan permukaan mukosa mulut
-
Pasta gigi dengan deterjen SLS menyebabkan sariawan berulang.

Percobaan terhadap hewan tikus juga menunjukkan sifat SLS yang beracun (toxic). Karenanya, Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat kini menyarankan pengembangan pasta gigi dengan alternatif pembuat busa yang lebih aman bagi kesehatan di masa depan.
Pasta Gigi tanpa Deterjen Ternyata Lebih Sehat untuk Keluarga
Jika dibandingkan dengan pasta gigi yang mengandung deterjen, pasti gigi tanpa deterjen tidak akan melukai jaringan lunak pada mulut. Karenanya, pasta gigi tanpa deterjen dapat mengembalikan fungsi alami air ludah dan mengurangi pertumbuhan plak gigi.
Selain itu, pasta gigi tanpa SLS akan mengurangi risiko timbulnya gangguan hormon dan kesehatan keluarga dalam jangka panjang, terutama jika Mama sedang hamil dan menyusui. Tentu mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan?
Baca juga: Efek Samping SLS Terhadap Ibu Hamil, Cukup Kurangi atau Hindari?
Pasta Gigi Tanpa SLS dan Paraben yang Aman untuk Keluarga
Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan, kini banyak orang ingin beralih dari pasta gigi berdeterjen SLS ke yang lebih alami dan aman.
Karena itu, Mama’s Choice menghadirkan pasta gigi yang natural tanpa SLS, paraben, bahkan fluoride. Pasta gigi ini menggunakan “bahan aktif non-fluoride yakni siwak dan kalsium, serta Klorofil dan Mint sebagai antibakteri dan penyegar alami bagi mulut.
Baca juga: Mengapa Sebaiknya Ibu Hamil Menghindari Fluoride Kimia?
Tak hanya aman untuk ibu hamil dan menyusui, Mama’s Choice Tooth Paste juga dapat digunakan oleh seluruh keluarga, termasuk Papa bahkan anak-anak.
Bagaimana, jadi semakin yakin untuk menghindari deterjen SLS dong?
Yuk mulai hidup lebih sehat dengan memilih produk yang Aman, Halal, dan Natural seperti Mama’s Choice! Lihat produk Mama’s Choice di Shopee
Artikel: Jangan Sepelekan Halitosis pada Mulut, Atasi dengan Cara Ini
Apa yang Sebenarnya Dilakukan SLS
Sodium lauryl sulfate adalah surfaktan, bahan yang menurunkan tegangan permukaan sehingga kotoran terangkat dan busa terbentuk.
Di pasta gigi, tugasnya sebagian besar adalah busa. Busa membuat pasta menyebar dan memberi sensasi bersih, tetapi yang membersihkan gigi adalah gesekan sikat dan bahan abrasif halus di dalam pasta.
Ini poin yang jarang disampaikan: pasta gigi tanpa SLS berbusa jauh lebih sedikit, dan itu tidak berarti kurang bersih.
Siapa yang Paling Terbantu
Mama yang sering sariawan. Sejumlah penelitian mengaitkan SLS dengan sariawan berulang pada orang yang rentan. Berhenti memakainya selama beberapa minggu adalah percobaan sederhana dengan risiko nol.
Mama yang sedang mual. Busa yang banyak memenuhi mulut dan memicu refleks muntah. Alasan ini yang paling praktis untuk beralih selama kehamilan.
Mulut kering. SLS dapat memperparah rasa kering pada sebagian orang.
Kulit dan selaput lendir sensitif, termasuk yang rentan iritasi di sudut bibir.
Bayi dan balita, yang belum bisa meludah dan menelan sebagian dari apa pun yang dipakai.
Yang Perlu Diluruskan
SLS bukan bahan beracun, dan pasta gigi yang mengandungnya tidak berbahaya bagi kebanyakan orang. Ia hadir dalam kadar rendah dan sudah lama digunakan.
Alasan menghindarinya bersifat kenyamanan dan sensitivitas, sariawan, mual, mulut kering, bukan toksisitas.
Perlu diperhatikan juga bahwa yang paling menentukan kesehatan gigi: menyikat dua kali sehari, membersihkan sela gigi, mengurangi frekuensi ngemil, dan kontrol rutin.
Hal yang Berubah Setelah Beralih
Busanya sedikit. Tekniknya perlu sedikit disesuaikan: sikat selama dua menit penuh, karena tanpa isyarat busa, banyak orang berhenti terlalu cepat.
Rasanya sering lebih ringan. Ini keuntungan saat mual, tetapi sebagian orang butuh waktu terbiasa karena mengaitkan rasa segar yang tajam dengan bersih.
Periksa bahan penggantinya. Beberapa pasta gigi tanpa SLS memakai surfaktan lain seperti cocamidopropyl betaine, yang juga bisa menimbulkan reaksi pada sebagian kecil orang.
Ringkasnya
Tanpa SLS berarti busa lebih sedikit, bukan bersih lebih sedikit.
Paling berguna bila Mama sering sariawan, sedang mual, atau memilihkan pasta gigi untuk anak yang belum bisa meludah.
Sumber:
Batas Klaim tentang SLS
Perlu jujur soal apa yang sebenarnya diketahui:
Yang didukung bukti: SLS dapat mengiritasi jaringan mulut pada sebagian orang, dan beberapa penelitian kecil menemukan sariawan berulang berkurang pada orang yang beralih ke pasta gigi tanpa SLS. Bagi Mama yang mudah sariawan atau mulutnya terasa perih, itu alasan yang cukup.
Yang tidak didukung bukti: bahwa SLS menyebabkan gangguan hormon, kerusakan organ, atau merupakan penyebab semua sariawan. Penilaian keamanan CIR menempatkan SLS sebagai bahan yang aman pada kadar yang dipakai di produk yang dibilas.
Jadi memilih pasta gigi tanpa SLS adalah soal kenyamanan mulut, bukan menghindari bahaya sistemik.
Sumber
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.