Bumil, Mengalami Halitosis? Begini 5 Cara Penanganannya
Pernah mendengar halitosis, Ma? Halitosis adalah kondisi yang bisa dialami siapa saja, dan ibu hamil lebih rentan mengalaminya. Apa itu halitosis?

Pernah mendengar halitosis, Ma? Halitosis adalah kondisi yang bisa dialami siapa saja, dan ibu hamil lebih rentan mengalaminya.
Apa itu halitosis?
Halitosis adalah gejala bau mulut yang disebabkan oleh banyaknya bakteri dan mikroba yang berkembang biak di dalam mulut. Umumnya, bakteri juga hidup di lidah, gusi, serta sela-sela gigi. Gejala halitosis ditunjukkan dengan lidah yang berwarna putih, mulut kering, serta rasa asam atau tidak nyaman di dalam mulut.
Halitosis bukanlah penyakit, melainkan kondisi buruk pada mulut yang luput dari perawatan. Bahkan, kondisi ini seringkali tidak disadari oleh orang-orang yang mengalaminya 🙁
Bagaimana cara mengenali tanda-tanda halitosis?

-
Bertanya kepada orang terdekat tentang kondisi bau mulut.
-
Menjilat sisi dalam pergelangan tangan dan tunggu hingga air liur mengering. Cium aromanya, jika bau mulut tidak sedap dan aromanya sangat kuat, ada kemungkinan Mama mengalami halitosis.
-
Konsultasikan masalah bau mulut ke dokter gigi.
Halitosis adalah salah satu masalah ibu hamil
Mengapa ibu hamil lebih rentan mengalami halitosis? Peningkatan hormon pada ibu hamil membuat kondisi mulut ibu hamil lebih asam. Saat hal ini terjadi, bakteri akan lebih mudah menempel di dalam mulut dan menyebabkan gigi berlubang, gusi bengkak dan berdarah, hingga bau mulut yang tidak sedap.
Terlebih lagi, hormon juga membuat ibu hamil rentan mual dan muntah. Hal ini juga memicu pertumbuhan bakteri di dalam mulut menjadi lebih banyak.

Cara mengatasi halitosis adalah menangani penyebabnya. Dan penyebabnya jarang jauh-jauh: sekitar 85–90% kasus bau mulut berasal dari rongga mulut sendiri, sisa makanan, lapisan bakteri di punggung lidah, gigi berlubang, radang gusi, dan mulut kering. Hanya sebagian kecil yang berasal dari luar mulut, seperti masalah sinus, lambung, atau penyakit tertentu. Faktanya, penyebab halitosis disebabkan oleh banyak faktor mulai dari yang sepele sampai yang serius. Simak ulasannya, beserta cara pencegahannya di bawah ini.
Penyebab halitosis dan cara pencegahannya
1. Sisa makanan penyebab bau mulut
80% bau mulut atau halitosis disebabkan oleh sisa makanan yang terlalu lama mengendap di dalam mulut dan berubah menjadi bakteri. Inilah pentingnya menyikat gigi dengan pasta gigi yang aman, halal, dan natural seperti Mama’s Choice Toothpaste.
Apalagi, jika Mama sering mengonsumsi makanan dengan bau menyengat. Bawang, susu, keju, ikan, kopi…. Nah! Ini saatnya Mama wajib lebih memperhatikan kondisi kebersihan mulut.
Cara pencegahannya:
Lakukan perawatan gigi dan mulut yang lebih maksimal. Saat menyikat gigi, sikat juga bagian lidah agar bakteri di lidah menghilang. Gunakan pasta gigi tanpa fluoride agar lebih aman jika tidak sengaja tertelan.
2. Sariawan
pH mulut yang tidak seimbang akan menyebabkan iritasi mulut. Salah satu kondisi yang terlihat, ialah sariawan. Kondisi ini menyebabkan mulut semakin rentan ditumbuhi bakteri penyebab bau mulut.
Cara pencegahannya:
Gunakan pasta gigi tanpa fluoride untuk mencegah sariawan. Perbanyak konsumsi vitamin C dan E untuk kesehatan dinding mulut.
3. Merokok dan mengonsumsi alkohol
Zat kimia dari rokok dan alkohol yang tertinggal di dalam mulut dapat menyebabkan bau tidak sedap.
Cara pencegahannya:
Sudah menjadi rumus yang pasti, rokok dan alkohol memang sebaiknya harus dihindari. Demi kesehatan, khususnya selama dan setelah kehamilan.
4. Kondisi kesehatan yang buruk
Beberapa penyakit juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan mulut. Sinusitis, flu, sakit tenggorokan, bronkitis, radang amandel, serta asam lambung adalah beberapa contohnya.
Cara pencegahannya:
Fokus pada penyembuhan penyakit yang dialami terlebih dahulu. Dukung dengan perawatan gigi dan mulut yang maksimal setiap harinya.
5. Mulut kering
Produksi air liur menjadi berkurang sehingga mulut lebih mudah bau. Umumnya hal ini terjadi pada seseorang ketika bangun tidur di pagi hari. Jika berlanjut, Mama wajib mewaspadainya sebagai gejala halitosis.
Cara pencegahannya:
Minum banyak air putih minimal 2 liter sehari. Gunakan obat kumur tanpa alkohol yang tidak menyebabkan kondisi mulut menjadi semakin kering.
Hanya 30 detik untuk napas segar seharian! Praktis digunakan, mudah dibawa kemana saja.
Kapan Perlu ke Dokter Gigi
Bau mulut yang hilang setelah menyikat gigi, membersihkan lidah, dan minum cukup air biasanya tidak perlu dikhawatirkan.
Periksakan ke dokter gigi bila:
- Bau mulut menetap meski kebersihan mulut sudah dijaga selama beberapa minggu
- Gusi berdarah, bengkak, atau terasa nyeri
- Ada gigi berlubang, tambalan yang lepas, atau gigi goyang
- Mulut terasa kering terus-menerus
- Ada rasa tidak enak yang menetap di mulut
- Muncul sariawan yang tidak sembuh lebih dari dua minggu
Bila dokter gigi sudah memastikan kondisi mulut baik tetapi baunya tetap ada, barulah penyebab di luar mulut ditelusuri bersama dokter umum.
Sumber
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.