Lewati ke konten

Beli di Shopee dan TikTok Shop resmi kami, atau di stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Pilihan Sabun Bayi Tanpa Sulfat (SLS, SLES) dan Paraben

Sudah pakai sabun khusus bayi, kok masih alergi? Yuk cari tahu kelebihan memilih sabun dan shampo tanpa sulfat SLS/SLES dan paraben pada bayi!

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 5 menit baca
Bayi dibilas dengan air

Saat membeli produk perawatan untuk bayi, tentu Mama ingin merasa yakin bahwa produk tersebut aman. Jadi jika Mama ingin membeli sabun dan shampo bayi, pilihlah sabun tanpa bahan kimia sulfat (SLS/SLES) dan paraben. Ingin tahu penjelasan selengkapnya? Baca terus di sini.

Bahaya Sulfat (SLS/SLES) dan Paraben dalam Sabun Bayi

“Sejak pakai sabun bayi merek X, kulit anakku kering dan memerah. Kata sepupuku, itu artinya dia alergi akibat sabun. Kok bisa ya, kan aku pakai sabun khusus bayi?”, Mama Chika

Nyatanya, meski berkategori produk khusus bayi, beberapa sabun dan shampo yang dijual di pasaran masih mengandung bahan-bahan toksin, seperti **paraben**dan sulfat (SLS/SLES).

1. Sulfat

Sulfat, yang berbentuk Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan Sodium Laureth Sulfate (SLES), merupakan agen surfaktan yang kerap dikenal sebagai “deterjen”. Bahan pembuat busa ini sering digunakan pada produk perawatan seperti sabun, shampo, pasta gigi, dan lain-lain.

Sulfat memiliki sifat yang cukup keras dan dapat mengiritasi kulit bayi yang sensitif. Karena itu, tidak heran beberapa Mama mengeluhkan munculnya alergi pada kulit anak mereka setelah menggunakan sabun bayi yang mengandung sulfat.

Baca juga: Ciri-Ciri Alergi Sabun Mandi pada Bayi

2. Paraben

Selain sulfat, paraben juga merupakan bahan berbahaya yang kerap ditemukan pada produk perawatan pribadi. Bahan pengawet untuk mencegah jamur, bakteri, dan ragi pada produk ini dapat dengan mudah diserap ke dalam tubuh melalui kulit.

Karena sifatnya yang menyerupai kadar estrogen (hormon wanita), penggunaan paraben terus menerus dalam jumlah besar bisa mengacaukan kerja hormon, khususnya pada anak laki-laki. Senyawa paraben juga kerap ditemukan pada sel kanker payudara.

Mengapa Sabun Bayi Tanpa Sulfat (SLS/SLES) dan Paraben lebih baik?

Melihat risiko akibat kedua bahan ini, banyak ahli merekomendasikan penggunaan sabun dan shampo tanpa sulfat SLS/SLES dan paraben sebagai pilihan paling aman untuk bayi. Keunggulan sabun tanpa sulfat SLS/SLES dan Paraben antara lain:

  • Lebih lembut di kulit bayi baru lahir yang sensitif. Mama bisa bebas dari kekhawatiran bahwa kulit anak akan alergi atau iritasi setelahnya.

  • Mencegah iritasi pada mata anak bayi yang masih dalam perkembangan.

  • Lebih aman untuk sistem pernapasannya.

  • Mencegah rambut anak rusak, kering, dan rapuh.

  • Menjaga kesehatan anak dan bayi dalam jangka panjang.

Pilihan Sabun Bayi Tanpa Sulfat (SLS/SLES) dan Paraben

Saat membeli sabun maupun sampo bayi, baca dengan cermat komposisi produk di bagian belakang atau pastikan ada klaim jelas bahwa formulanya bebas sulfat dan paraben. Jika Mama ingin tahu merek apa yang menawarkan produk bebas sulfat, Mama’s Choice adalah jawabannya.

Diperkaya bahan alami Lavender dan Chamomile, formulanya lembut membersihkan kulit, melembapkan rambut, sekaligus memberikan efek relaksasi bagi bayi.

Mama’s Choice Baby Hair and Body Wash dengan lavender dan chamomile

Cobalah sabun ini dan rasakan bedanya pada kulit bayi Mama!

Artikel terkait: Cara Memandikan Bayi Baru Lahir dengan Bak Mandi Beserta Gambarnya

Sabun bayi tanpa sulfat (SLS/SLES) dan paraben, kendati sedikit mahal, merupakan investasi kesehatan yang sepadan untuk Si Kecil. Jadi, sekarang Mama sudah tahu dong harus pilih sabun bayi yang mana?

Pilihan Sabun Bayi Tanpa Sulfat (SLS/SLES) dan Paraben

Kenapa Kulit Bayi Perlu Formula Berbeda

Lebih tipis. Lapisan luar kulit bayi jauh lebih tipis daripada kulit dewasa, sehingga bahan yang dioleskan lebih mudah menembusnya.

Sawar kulit belum matang. Kemampuan menahan air dan menolak iritan baru terbentuk sampai sekitar usia satu tahun.

Luas permukaan terhadap berat badan jauh lebih besar. Untuk luas olesan yang sama, jumlah yang diserap per kilogram berat badan jauh lebih tinggi daripada pada orang dewasa.

pH kulit bayi berbeda. Sabun batangan biasa bersifat basa dan menggeser keseimbangan itu, yang membuat kulit lebih mudah kering dan teriritasi.

Membaca Label dalam Satu Menit

Lima bahan pertama menentukan. Urutan menunjukkan kadar; bahan yang dipromosikan tetapi berada di urutan akhir hadir dalam jumlah kecil.

Nama sulfat: sodium lauryl sulfate, sodium laureth sulfate, ammonium lauryl sulfate.

Nama paraben: methylparaben, propylparaben, butylparaben.

Cari kata "parfum" atau "fragrance", satu kata itu bisa mewakili puluhan bahan yang tidak dirinci, dan merupakan pemicu iritasi paling umum.

Perhatikan alkohol. Alcohol denat mengeringkan; cetyl alcohol dan stearyl alcohol adalah alkohol lemak yang justru melembapkan. Namanya mirip, fungsinya berlawanan.

Cek nomor BPOM di situs resminya.

Yang Perlu Diluruskan

SLS bukan bahan beracun, dan sabun yang mengandungnya tidak berbahaya bagi kebanyakan orang. Ia hadir dalam kadar rendah dan sudah lama digunakan.

Alasan menghindarinya pada bayi bersifat kelembutan dan sensitivitas, kulit tipis, sawar yang belum matang, dan kecenderungan kering, bukan toksisitas.

Begitu pula paraben: kekhawatirannya berkaitan dengan kemungkinan efek menyerupai estrogen, dan bukti pada kadar kosmetik masih diperdebatkan. Memilih menghindarinya adalah kehati-hatian, bukan respons terhadap bahaya yang terbukti.

Perlu diingat juga: produk tanpa pengawet sama sekali adalah produk yang lebih cepat terkontaminasi, dan itu kebalikan dari lebih aman.

Seberapa Sering Bayi Perlu Disabuni

Lebih jarang daripada yang banyak dikira.

Bayi baru lahir cukup dimandikan dua sampai tiga kali seminggu, dan sabun hanya diperlukan pada area popok, lipatan, dan tangan. Selebihnya air bersih sudah memadai.

Mandi terlalu sering dengan sabun menghilangkan minyak alami dan menjadi penyebab kulit kering yang paling umum pada bayi.

Yang lebih menentukan daripada pilihan sabun: mandi singkat dengan air suam-suam kuku, mengeringkan dengan menepuk, dan mengoleskan pelembap dalam tiga menit setelahnya.

Mengapa Sabun Bayi Tanpa Sulfat (SLS/SLES) dan Paraben Lebih Baik?

Kulit bayi masih berkembang dan lebih rentan terhadap iritasi. Karena itu, banyak ahli merekomendasikan penggunaan sabun dan sampo dengan formula lembut, termasuk yang bebas sulfat SLS/SLES. Surfaktan yang lebih keras seperti SLS dapat meningkatkan risiko kulit kering dan iritasi.

Keunggulan sabun tanpa sulfat SLS/SLES dan paraben antara lain:

  • Lebih lembut di kulit bayi dan membantu meminimalkan risiko kulit kering atau iritasi

  • Membantu menjaga skin barrier dan kelembapan alami kulit bayi

  • Tetap efektif membersihkan tanpa membutuhkan formula dengan surfaktan yang terlalu keras

Satu catatan: memilih formula tanpa paraben adalah pilihan kehati-hatian, bukan karena bahan itu terbukti berbahaya pada kadar yang diizinkan.

Sumber:

Nymag.com

Slsfree.net

Theconsciousparent.co.uk

Menempatkan Peringatan Bahan pada Porsinya

Beberapa hal yang perlu diluruskan:

Tidak ada bukti bahwa bahan sabun bayi biasa mengganggu pertumbuhan Si Kecil. Yang terbukti adalah bahwa pembersih yang terlalu keras atau dipakai terlalu sering membuat kulit bayi kering dan mudah teriritasi, itu alasan yang cukup untuk memilih formula yang lembut.

Label bebas paraben tidak dengan sendirinya membuat produk lebih aman. FDA menyatakan tidak ada bukti paraben pada kadar kosmetik berbahaya. Pengawet penggantinya pun dapat mengiritasi sebagian orang.

pH 5,5 bukan jaminan kecocokan. Ia satu faktor di antara banyak faktor; yang menentukan tetap keseluruhan formulanya dan reaksi kulit Si Kecil.

"Alami" tidak berarti bebas reaksi. Minyak esensial termasuk pemicu iritasi yang cukup sering pada kulit sensitif.

Yang paling berguna: pakai seperlunya, pilih yang bebas pewangi, dan hentikan bila kulit memerah, kering, atau gatal.

Sumber

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Baca juga

Tanya kami