Lewati ke konten

Beli di Shopee dan TikTok Shop resmi kami, atau di stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Preeklampsia pada Ibu Hamil, 4 Cara Mengatasinya

Preeklampsia adalah salah satu penyakit yang wajib diwaspadai oleh ibu hamil. Simak pencegahan dan penanganannya di artikel berikut ini. Apa itu preeklampsia?

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 5 menit baca
Preeklampsia pada Ibu Hamil, Ini 4 Cara Mengatasinya

Preeklampsia adalah salah satu penyakit yang wajib diwaspadai oleh ibu hamil. Simak pencegahan dan penanganannya di artikel berikut ini.

Apa itu preeklampsia?

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi setelah usia kehamilan 20 minggu, disertai tanda gangguan pada organ. Perlu dicatat: protein dalam urine tidak selalu ada, preeklampsia tetap dapat ditegakkan tanpa proteinuria bila ada tanda gangguan organ seperti trombosit rendah, gangguan fungsi hati atau ginjal, cairan di paru, atau keluhan neurologis. Preeklamsia juga dapat dideteksi dengan adanya pembekuan darah rendah (trombosit) serta indikator gangguan ginjal atau hati.

Gejala preeklampsia umumnya dialami ibu hamil pada saat minggu ke-20 kehamilan. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi lebih awal. Kondisi ini biasanya terus terjadi hingga bayi lahir.

Penelitian mencatat, 5% dari ibu hamil mengalaminya. Tanpa penanganan yang tepat, preeklampsia bisa berkembang menjadi eklampsia.

Apa perbedaan preeklampsia dengan eklampsia?

Preeklampsia adalah kondisi awal yang menunjukkan tekanan darah tinggi pada ibu hamil sebagai tanda terganggunya organ tubuh tertentu. Sementara eklampsia adalah perkembangan preeklampsia menuju tahap yang lebih parah. Keduanya sama-sama bisa terjadi selama kehamilan atau setelah melahirkan.

Eklampsia membutuhkan perawatan medis yang lebih intensif, karena tekanan darah tinggi dalam kondisi ini bisa menyebabkan kejang. Ini kegawatdaruratan.

Bagaimana gejala preeklampsia yang paling umum terjadi?

  • Sakit kepala berlanjut

  • Pembengkakkan pada kaki, tangan, dan wajah

  • Berat badan naik secara drastis dan tiba-tiba

  • Nyeri pada perut bagian atas, paling sering di bawah tulang rusuk sebelah kanan)

  • Sesak napas

  • Volume urin berkurang, jarang buang air kecil

  • Penglihatan menjadi kabur dan sensitif terhadap cahaya

Jika Mama mengalami 7 gejala preeklampsia di atas, segera periksakan ke dokter untuk mendiagnosa lebih lanjut. Umumnya, dokter akan melakukan ultrasonografi (USG) untuk memeriksa kondisi janin, pemeriksaan darah, tes urin, serta nonstress test (NST) untuk memeriksa detak jantung bayi.

Ambang tekanan darah

140/90 mmHg adalah ambang untuk menegakkan tekanan darah tinggi dalam kehamilan, bukan ambang "berat". Preeklampsia digolongkan berat bila tekanan darah mencapai 160 sistolik atau 110 diastolik, atau bila muncul tanda gangguan organ berikut.

Tanda-tanda yang menyertai:

  • Tekanan darah β‰₯140/90 mmHg (dan β‰₯160/110 mmHg menandakan kategori berat)

  • Terdapat protein di dalam urin

  • Jumlah trombosit yang rendah

  • Ditemukannya gejala gangguan ginjal dan hati lainnya

  • Ada cairan di dalam paru-paru

  • Mual dan muntah

Apa bahaya tekanan darah tinggi untuk kesehatan ibu dan janin?

Preeklampsia adalah masalah pada tekanan darah ibu hamil. Hal ini mengakibatkan berkurangnya aliran darah ke janin sehingga janin lebih lambat berkembang.

Selain itu, masalah pembuluh darah ini juga bisa menghambat kinerja plasenta dalam mengalirkan nutrisi untuk janin.

Preeklamsia menyebabkan risiko gangguan kesehatan janin seperti:

  • Bayi lahir dengan berat badan rendah

  • Kondisi bayi lahir tidak sempurna (kelainan bawaan)

  • Bayi lahir prematur atau kelahiran dini

  • Risiko bayi lahir dengan penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi

5 penyebab preeklampsia yang tak banyak disadari

Tidak ada penyebab preeklampsia yang paling dominan, karena hal ini juga bergantung pada kondisi kesehatan serta gaya hidup masing-masing ibu hamil.

Adapun beberapa penyebab preeklampsia, antara lain:

  • Faktor genetik yang diturunkan oleh orang tua

  • Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya

  • Masalah pembuluh darah yang menyempit dan menyebabkan penurunan jumlah darah

  • Gangguan autoimun yang mengganggu sistem kekebalan tubuh

  • Plasenta yang mengalirkan nutrisi ke janin tidak berfungsi dengan baik

Kondisi ibu hamil yang berisiko terkena preeklamsia

  • Kehamilan pertama

  • Hamil dengan banyak janin, termasuk hamil kembar

  • Memiliki riwayat tekanan darah tinggi

  • Hamil di atas usia 35 tahun

  • Gemuk, dalam tingkat obesitas lebih berisiko

  • Memiliki riwayat diabetes

  • Adanya riwayat gangguan ginjal

Kondisi ini umumnya bawaan dan bergantung pada kekebalan tubuh masing-masing. Namun, dokter biasanya merekomendasikan beberapa langkah untuk mengatasi preeklampsia seperti berikut ini.

4 cara mengatasi dan mencegah preeklampsia

1. Konsultasikan ke dokter secara rutin

Jika Mama mengalami gejala preeklampsia yang disebutkan di atas, segera konsultasikan ke dokter kandungan untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Biasanya, dokter akan memberikan aspirin dosis rendah, suplemen kalsium, serta antihipertensi.

Lakukan pemeriksaan darah, USG, tes urin, serta nonstress test (NST) jika memang disarankan oleh dokter. Yang terpenting, jangan sekali-sekali mengonsumsi obat tanpa resep dan rekomendasi dari dokter, ya, Ma πŸ™‚

2. Penuhi asupan kalsium

Kebutuhan kalsium saat hamil adalah hal yang sangat penting. Sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kementerian Kesehatan RI, kebutuhan kalsium ibu hamil dan menyusui bertambah sebanyak 200 mg daripada wanita biasa.

Selain suplemen kalsium dari dokter, Mama juga bisa mengonsumsi makanan tinggi kalsium seperti susu, brokoli, ikan, dan juga kacang-kacangan.

  • Baca Juga: Begini Akibat Jika Ibu Hamil Kekurangan Kalsium

3. Lakukan gaya hidup sehat

Ini juga merupakan salah satu langkah pencegahan. Sebaiknya, Mama meminta rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan untuk pola hidup sehat yang akan Mama lakukan.

Biasanya, ibu hamil yang mengalami preeklampsia dianjurkan untuk diet atau meninjau setiap nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Tentu saja makanan pemicu darah tinggi seperti fast food, makanan instan, kulit ayam, makanan yang mengandung pemanis buatan, dan kafein harus dihindari.

Mama juga harus beristirahat total dengan posisi miring ke kiri sesuai demi menjaga posisi janin di dalam kandungan. Memperbanyak konsumsi air putih juga sangat dianjurkan agar kondisi tubuh menjadi lebih seimbang.

Jangan lupa, menerapkan pola hidup sehat juga harus memilih produk yang aman digunakan selama kehamilan. Apapun itu, mulai dari sampo, sabun, lotion, hingga produk perawatan lainnya.

4. Pijat dan relaksasi

Salah satu faktor terjadinya darah tinggi adalah stres. Dengan kata lain, stres saat hamil juga memicu munculnya preeklampsia meskipun secara tidak langsung.

Mengantisipasi hal ini, Mama harus mementingkan momen relaksasi untuk diri Mama. Mulai dariΒ *me time,*melakukan senam yoga saat hamil, atau melakukan pijat prenatal yang dilakukan dengan terapis ahli untuk mengurangi tekanan darah tinggi. Khusus untuk pijat, pastikan Mama mengkonsultasikannya ke dokter terlebih dahulu, ya πŸ™‚

Jika semua hal tersebut sudah dilakukan, namun Mama tetap mengalami gejala preeklampsia yang tak kunjung menghilang, minta dokter untuk melakukan penanganan lebih lanjut sebelum terlambat.

Sehat selalu, Ma! πŸ™‚

Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan

Segera ke IGD bila muncul:

  • Nyeri kepala hebat yang tidak mereda dengan istirahat atau parasetamol
  • Pandangan kabur, berkunang-kunang, atau melihat kilatan cahaya
  • Nyeri hebat di ulu hati atau di bawah tulang rusuk kanan
  • Bengkak mendadak pada wajah, tangan, atau kaki
  • Sesak napas
  • Kejang, ini eklampsia dan merupakan kegawatdaruratan
  • Gerakan janin berkurang

Perlu ditegaskan: preeklampsia tidak dapat diobati dengan relaksasi, pijat, atau minyak apa pun. Satu-satunya penanganan definitif adalah melahirkan, dengan waktu yang ditentukan dokter berdasarkan usia kehamilan dan beratnya kondisi. Sampai saat itu, yang dilakukan adalah pemantauan ketat dan obat sesuai resep.

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Baca juga

Tanya kami