Lewati ke konten

Beli di Shopee dan TikTok Shop resmi kami, atau di stockist di seluruh Indonesia

Mama's Choice

Mengenal Vaginal Birth After Cesarean (VBAC): Risiko, Fakta

Banyak Mama dan Papa menganggap bahwa Vaginal Birth After Cesarean (VBAC) adalah hal yang sulit. Sebelum memutuskan VBAC, sebaiknya mengetahui risikonya.

Ditulis oleh Tim Mama's ChoiceArtikel ini belum ditinjau oleh tenaga kesehatan.Terbit Diperbarui 4 menit baca
Pasangan muslim menanti kelahiran

Mama tahu tidak? Baru-baru ini, publik tengah ramai membicarakan Sabai Dieter Morscheck, istri dari aktor Ringgo Agus Rahman yang 30 Oktober lalu melahirkan anak keduanya secara normal setelah sebelumnya melahirkan anak sulungnya secara caesar. Banyak Mama dan Papa menganggap bahwa Vaginal Birth After Cesarean (VBAC) adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Tapi sebenarnya bisa saja dilakukan lho, selama dokter mengijinkan dan Mama memenuhi sejumlah kriteria.

Membagikan Pengalaman VBAC

Dalam unggahan Instagram Ringgo, terekam proses kelahiran putra keduanya melalui unggahan foto serta video. Ia tampak berusaha mengusir ketegangannya sambil menyemangati sang istri lewat kata-kata jenaka, mulai dari saat bukaan 6, pecah ketuban, hingga bukaan 10. Bayi yang dinamai Curtis Ziggy Mars Morscheck itu akhirnya lahir dengan berat 3,8 kilogram dan tinggi 51 sentimeter. 

Sabai Dieter Morscheck melahirkan secara VBAC

Publik, tak hanya ikut bahagia menyaksikan momen itu, pun bertanya-tanya bagaimana Sabai yang pada persalinan pertamanya menggunakan metode Caesar, bisa melahirkan normal setelahnya. Memang metode VBAC belum familiar di kalangan orang tua di Indonesia, tapi sebenarnya bisa dilakukan selama memenuhi beberapa kriteria.

Hal-hal yang Dinilai Sebelum VBAC

Perlu ditegaskan lebih dulu: kelayakan VBAC dinilai secara individual oleh dokter kandungan, dan tidak ada daftar syarat yang berlaku kaku untuk semua orang. Faktor yang paling menentukan adalah jenis dan letak jaringan parut di rahim, riwayat obstetri Mama, dan apakah persalinan berlangsung di fasilitas yang mampu melakukan operasi caesar darurat.

Hal-hal yang biasanya ikut dinilai:

  • Mama memiliki ukuran panggul yang besar, sehingga bayi dapat melewatinya dengan aman.

  • Ukuran dan berat badan bayi normal.

  • Tidak mengalami preeklampsia.

  • Posisi bayi dalam kandungan normal, dengan kepala pada bagian bawah rahim.

  • Letak garis sayatan operasi caesar pada rahim rendah dan melintang (horisontal).

  • Riwayat operasi caesar kurang dari tiga kali. Semakin sering Mama telah melakukan operasi caesar, maka semakin besar risiko yang mungkin timbul akibat persalinan normal setelahnya.

  • Tidak memiliki penyakit yang dapat membuat proses melahirkan secara normal berisiko, misalnya plasenta previa (plasenta berada di bawah rahim sehingga menghalangi bayi).

Daftar di atas bukan tiket lolos otomatis, dan tidak adanya salah satu poin bukan berarti VBAC pasti tidak mungkin. Keputusannya dibuat bersama dokter, dan bisa berubah bila keadaan berubah selama kehamilan atau persalinan.

  • Mama harus menjaga berat badan selama kehamilan. Sebab jika saat kehamilan berat badan Mama meningkat tidak terkontrol, maka kemungkinan bayi dalam kandungan akan berbobot dan berukuran besar. Bayi yang berukuran besar ini bisa menjadi faktor penghambat metode VBAC.

  • Usahakan jarak antara persalinan caesar dan normal lebih dari 18 bulan. Bahkan idealnya berjarak 18–24 bulan. Untuk itu, jika Mama ingin menggunakan metode VBAC pada persalinan berikutnya, usahakan jeda dulu sebelum hamil kembali ya, Ma. Semakin jauh jarak antar persalinan, semakin kecil komplikasi yang mungkin timbul.

  • Jaga kesehatan dan kebugaran tubuh Mama. Ikuti kelas melahirkan normal atau lakukan senam dan olahraga ringan sesuai anjuran dokter spesialis Mama. Kebugaran membantu Mama menjalani persalinan, meski tidak menjamin hasilnya.

Keuntungan VBAC

Sebenarnya, ada banyak manfaat yang bisa Mama peroleh dengan melahirkan metode VBAC. Beberapa manfaatnnya antara lain:

  • Waktu pemulihan dalam rumah sakit lebih cepat daripada operasi caesar, sehingga Mama bisa lebih cepat beraktivitas seperti biasa.

  • Mengurangi biaya persalinan.

  • Tidak menimbulkan jaringan parut pada rahim.

  • Risiko komplikasi persalinan seperti kehilangan darah, lebih rendah.

  • Mama bisa melakukan inisiasi menyusu dini, yakni memeluk dan menyusui bayi langsung setelah lahir.

  • Risiko bayi terkena masalah pernapasan lebih rendah.

Keuntungan VBAC

Risiko yang Dapat Timbul

Namun, sebelum memutuskan untuk melakukan VBAC, ada baiknya Mama mengetahui beberapa potensi risikonya. Meski potensi risiko ini sangat kecil, yakni kurang dari satu persen, Mama tetap perlu mewaspadainya. Salah satu risiko dalam melakukan VBAC adalah kemungkinan terjadinya robekan rahim pada luka sayatan bekas operasi caesar. Jika bekas operasi caesar pecah, Mama dapat kehilangan banyak darah dan bayi akan mengalami kekurangan oksigen. 

Jika terjadi robekan pada rahim, maka Mama perlu melakukan pengangkatan rahim atau histerektomi. Artinya, Mama tidak dapat hamil lagi karena rahim telah diangkat. Selain itu, bayi yang mengalami masalah pada saat VBAC berisiko mengalami komplikasi serius yang dapat menyebabkan kerusakan otak jangka panjang, atau bahkan kematian.

Oleh karena itu, penting mengingat bahwa Mama tidak perlu memaksakan untuk melahirkan normal setelah caesar. Jika menjelang hari H ternyata kondisi tidak memungkinkan, ikutilah saran dari dokter. Tentunya dokter akan membuat keputusan terbaik untuk keselamatan Mama dan bayi. Dan juga, jika Mama ingin tetap melakukan VBAC, pilihlah rumah sakit yang memiliki fasilitas mumpuni dan dapat melakukan tindakan caesar jika terpaksa.

Itulah fakta-fakta mengenai risiko, keuntungan, dan kriteria melahirkan normal setelah caesar. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Mama ya!

Banner produk kehamilan dan menyusui Mama’s Choice

Bagikan artikel ini

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

Baca juga

Tanya kami