Fluorosis pada Gigi: Penyebab dan Cara Mencegahnya
Fluorosis hanya terjadi saat gigi anak masih terbentuk. Ini penyebabnya, siapa yang benar-benar berisiko, dan takaran pasta gigi yang aman.

Fluorosis gigi adalah perubahan tampilan email gigi akibat menelan fluoride berlebih selama gigi masih terbentuk di dalam gusi, kira-kira sejak lahir sampai usia 8 tahun. Tandanya berupa garis atau bercak putih samar; pada kasus yang lebih berat bisa muncul noda kecoklatan dan permukaan yang tidak rata. Sebagian besar fluorosis di Indonesia bersifat ringan dan hanya masalah tampilan, bukan masalah kekuatan gigi.
Satu hal yang penting diketahui sejak awal: fluorosis hanya bisa terjadi pada masa gigi sedang berkembang. Orang dewasa dan ibu hamil tidak bisa terkena fluorosis dari menyikat gigi.
Fluorosis Hanya Terjadi Saat Gigi Sedang Terbentuk

Fluorosis muncul saat email gigi sedang dibentuk. Karena itu jendela risikonya terbatas pada masa kanak-kanak, dan begitu gigi permanen selesai tumbuh, jendela itu tertutup. Perubahan yang sudah terjadi memang menetap.
Perlu diluruskan dua hal yang sering keliru di sini. Pertama, fluoride yang dikonsumsi ibu hamil bukan penyebab fluorosis pada bayinya, fluorosis berkaitan dengan fluoride yang ditelan anak setelah lahir, saat giginya berkembang. Kedua, orang dewasa tidak bisa terkena fluorosis, karena pembentukan email giginya sudah selesai.
Perubahan warna gigi pada orang dewasa biasanya noda dari kopi, teh, rokok, atau penumpukan plak dan karang gigi. Fluorosis jarang menjadi sebabnya. Penanganannya berbeda sama sekali, jadi jangan langsung menyimpulkan sendiri, tanyakan ke dokter gigi.
Yang benar-benar perlu dijaga adalah berapa banyak fluoride yang tertelan Si Kecil, bukan menghindarinya sama sekali. Caranya sederhana:
- Di bawah 3 tahun: pasta gigi sebesar butir beras, disikat dan diawasi
- Usia 3–6 tahun: sebesar biji kacang polong, tetap diawasi
- Ajari meludah, bukan menelan atau berkumur banyak air
- Simpan pasta gigi di luar jangkauan anak
Untuk anak yang belum bisa meludah, pasta gigi tanpa fluoride juga pilihan yang masuk akal, supaya jumlah yang tertelan tidak perlu diperhitungkan sama sekali. Fluoride sendiri tidak beracun pada takaran yang dianjurkan.
Bagaimana dengan Pasta Gigi Tanpa Fluoride?

Banyak yang bertanya, bagaimana efektivitas kerja pasta gigi tanpa fluoride untuk kesehatan tubuh? Tenang saja, pasta gigi tanpa fluoride tetap bisa bekerja optimal untuk menjaga kesehatan gigi.
Perlu jujur di sini: bahan alami pada pasta gigi tanpa fluoride tidak terbukti menggantikan fungsi fluoride dalam mencegah gigi berlubang. Yang paling menentukan tetap menyikat dua kali sehari dengan benar, membersihkan sela gigi, dan mengurangi frekuensi makanan manis.
Salah satu bahan yang banyak dipakai adalah siwak, yang punya efek pembersih mekanis dan antibakteri. Seperti halnya **Mama’s Choice Toothpaste,**yang mengandung siwak sebagai bahan utamanya. Terlebih lagi, pasta gigi aman ini juga dilengkapi dengan kalsium untuk mencegah gigi nyeri dan berlubang.
Pasta gigi halalini juga unggul dengan bahan alami lainnya seperti allantoin serta klorofil sebagai pewarna alami. Hadir tanpa bahan kimia yang berisiko untuk kehamilan seperti fluoride, SLS, paraben, pewangi buatan, hingga triclosan. Lebih aman dan sehat, bukan?
Alasan Sebagian Mama Memilih Pasta Gigi Tanpa Fluoride
-
Untuk anak yang belum bisa meludah, jumlah fluoride yang tertelan tidak perlu diperhitungkan
-
Formula tanpa SLS lebih nyaman bagi Mama yang mudah sariawan atau mual saat menyikat gigi
-
Bagi Mama yang memilih menghindari fluoride sebagai bentuk kehati-hatian, misalnya karena Si Kecil belum bisa meludah, pasta gigi tanpa fluoride menjadi pilihan yang masuk akal. Fluoride topikal (pasta gigi yang diludahkan) tidak sama dengan fluoride yang tertelan terus-menerus dari air minum berkadar tinggi; ADA dan ACOG menyatakan fluoride topikal aman dipakai selama kehamilan.
-
Berguna bila total paparan fluoride dari sumber lain, misalnya air minum daerah tertentu, sudah tinggi
Beli **Mama’s Choice Toothpaste**pasta gigi tanpa fluoride khusus untuk ibu hamil dan menyusui yang **pertama di Indonesia!
Yang Perlu Diluruskan tentang Fluorosis
Bagian ini perlu ditambahkan agar gambarannya utuh, karena fluorosis sering disalahpahami dalam dua arah sekaligus.
Fluorosis hanya terbentuk selama gigi sedang dibentuk, yaitu kira-kira sampai usia delapan tahun, ketika email gigi permanen masih tersusun di dalam gusi. Setelah gigi tumbuh sempurna, paparan fluoride tidak lagi menyebabkan fluorosis.
Artinya, gigi kuning atau kusam pada orang dewasa hampir selalu bukan fluorosis. Penyebab yang jauh lebih sering: noda dari kopi, teh, dan rokok; penipisan email sehingga lapisan dentin yang lebih kuning tampak; serta karang gigi.
Sebagian besar fluorosis bersifat ringan dan berupa bintik atau garis putih halus yang hanya terlihat oleh dokter gigi. Bentuk sedang sampai berat, dengan noda kecokelatan dan permukaan tidak rata, memerlukan paparan yang jauh lebih besar dan lebih jarang ditemukan.
Sisi Lain yang Perlu Dipertimbangkan
Fluoride juga punya manfaat yang buktinya kuat: ia menurunkan risiko gigi berlubang, dan gigi berlubang pada anak bukan masalah kecil. Ia menyebabkan nyeri, infeksi, dan gangguan makan serta tidur.
Karena itu, cara pandang yang lebih berguna adalah berapa banyak, pada usia berapa.
Sumber fluoride pada anak bukan hanya pasta gigi: air minum di beberapa daerah, suplemen, dan pasta gigi yang tertelan karena anak belum bisa meludah, semuanya menambah total.
Cara Menurunkan Risiko Tanpa Menghilangkan Manfaat
Takar pasta giginya. Seukuran butir beras untuk anak di bawah tiga tahun, seukuran kacang polong untuk usia tiga sampai enam tahun. Ini langkah tunggal yang paling berpengaruh.
Awasi saat menyikat sampai anak bisa meludah dengan andal, biasanya sekitar usia enam tahun.
Simpan pasta gigi di tempat yang tidak terjangkau. Pasta gigi rasa buah yang dimakan langsung dari tabung adalah sumber paparan berlebih yang paling sering.
Jangan memberikan suplemen fluoride tanpa penilaian dokter gigi, terutama bila air di daerah Mama sudah mengandung fluoride.
Tanyakan kepada dokter gigi anak. Keputusan memakai pasta gigi berfluoride atau tidak sebaiknya diambil setelah risiko gigi berlubang anak dinilai, bukan berdasarkan iklan mana pun, termasuk iklan kami.
Ringkasnya
Fluorosis nyata, tetapi hanya terbentuk sebelum sekitar usia delapan tahun, dan sebagian besar kasusnya ringan.
Gigi kuning pada orang dewasa umumnya bukan fluorosis. Yang menentukan risiko pada anak adalah takaran dan pengawasan.
Sumber
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.

