Bolehkah Bayi 2-3 Bulan Dibawa ke Pantai? Simak Tipsnya
Setelah melahirkan, tiba-tiba Mama ingin berlibur ke pantai? Tapi apakah boleh bayi 2 bulan dibawa ke pantai? Atau bolehkah bayi 3 bulan ke pantai?

Setelah melahirkan, tiba-tiba Mama ingin berlibur ke pantai? Tapi apakah boleh bayi 2 bulan dibawa ke pantai? Atau bolehkah bayi 3 bulan ke pantai? Yuk, simak ulasan lengkapnya di sini, Ma!
Bolehkah Bayi 2 hingga 3 Bulan untuk Dibawa ke Pantai?
Saat Mama dan Papa membutuhkan liburan ke pantai, memang sepertinya tidak tega jika meninggalkan Si Kecil bersama pengasuh atau kerabat di rumah. Namun Mama dan Papa mungkin khawatir, apakah boleh membawa bayi yang baru lahir ke pantai.
Jawabannya sebenarnya boleh saja, Ma. Tetapi Mama dan Papa harus menunggu Si Kecil setidaknya berusia minimal 2 bulan. Kenapa baru diperbolehkan pada usia tersebut? Sebab kulit bayi yang baru lahir masih sangat sensitif, Ma.
Sehingga sengatan matahari dan panas saat berada di pantai dapat membakar kulit bayi. Maka tidak heran jika FDA dan American Academy of Pediatrics menyarankan agar bayi yang berusia kurang dari 6 bulan harus menghindari paparan sinar matahari.
Baca juga: Mineral Oil pada Skincare dan Produk Bayi, Bahaya Tidak?
Tips Membawa Bayi 2 hingga 3 Bulan ke Pantai

Walaupun diperbolehkan, Mama dan Papa tetap perlu menyediakan berbagai perlengkapan saat membawa bayi 2-3 bulan ke pantai. Mengingat kulit bayi yang masih sensitif saat terkena sinar matahari. Berikut merupakan tips yang bisa Mama dan Papa simak sebelum merencanakan perjalanan ke pantai:
1. Bawa perlengkapan bayi
Saat ke pantai, Mama dan Papa harus membawa perlengkapan tambahan untuk mengamankan kulit dan tubuh bayi. Misalnya dengan membawa handuk, tenda atau payung untuk mencegah sinar matahari mengenai kulit bayi secara langsung, dan penahan angin.
Sebab bayi berusia 2 hingga 3 bulan sebaiknya menghindari paparan sinar matahari secara langsung. Jangan lupa untuk membawa selimut piknik untuk menghindari bayi dari pasir.
2. Kenakan bayi pakaian yang nyaman
Untuk bayi 2 hingga 3 bulan, Mama bisa mengenakan mereka pakaian dengan bahan lembut seperti katun, tetapi menutupi seluruh tubuh. Pilih juga bahan pakaian yang mudah menyerap keringat ya Ma. Jika bayi diletakkan pada stroller, berikan alas yang nyaman serta tetap gunakan penutupnya.
Mama bisa menggunakan bayi topi yang menghalangi sinar matahari pada bayi. Kemudian berikan juga kacamata untuk menghindari silau dari sinar matahari.
3. Tetap memberikan ASI

Selama berada di pantai, Mama dan Papa harus pastikan Si Kecil tetap terhidrasi karena berada di lingkungan yang panas. Mama bisa menyusui bayi secara langsung di pantai, atau menggunakan fasilitas ruang menyusui untuk menjaga privasi.
Jika tidak tersedia ruang menyusui, Mama bisa mencari tempat terlindung agar hembusan angin dan pasir tidak mengganggu bayi.
Pilihan lainnya adalah dengan menyiapkan ASI perah, untuk diberikan saat berada di pantai. Pastikan ASI tidak terkontaminasi, terutama oleh pasir saat hendak diberikan kepada Si Kecil. Begitu juga dengan botol dot perlu diberi alas agar tidak terkena pasir, atau simpan dalam cooler bag atau diaper bag.
4. Perhatikan waktu yang tepat untuk berkunjung ke pantai
Saat membawa Si Kecil ke pantai, Mama dan Papa harus memilih waktu yang tepat. Sebab pada jam-jam tertentu sinar matahari akan sangat menyengat dan berbahaya untuk kulit bayi yang sensitif. Maka dari itu, hindari mengunjungi pantai bersama bayi pada jam 11.00-15.00 yang merupakan waktu terpanas sepanjang hari.
5. Sunscreen: hanya mulai usia 6 bulan

Terakhir, Mama perlu memberikan sunscreen pada bayi. Pilihlah tabir surya yang memang diformulasikan untuk bayi ya Ma. Sebab sunscreen khusus bayi biasanya menggunakan bahan yang aman dan tidak berbahaya untuk kulit bayi.
–
Jadi, bayi usia 2–3 bulan boleh diajak ke pantai, asal singkat, di luar jam terik, selalu di bawah naungan, dan dengan pakaian tertutup. Yang tidak boleh adalah mengandalkan sunscreen sebagai pelindungnya.
Artikel terkait: Banyak Manfaat, Kapan Bayi Boleh Mulai Diajak Berenang?
Sumber:
Sumber
Bagikan artikel ini
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Konsultasikan kondisi Mama dengan bidan atau dokter.
